Tantangan Literasi Informasi bagi Remaja dan Santri
Gelombang demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah beberapa waktu terakhir bukan hanya memengaruhi situasi di lapangan, tetapi juga memicu banjir informasi di ruang digital. Berita, potongan video, dan pesan berantai muncul secara bertubi-tubi, sering kali tanpa verifikasi yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, hoaks atau informasi palsu dengan cepat ikut “turun ke jalan”, menciptakan kebingungan dan kecemasan di masyarakat.

Fenomena ini terasa lebih kuat bagi para santri yang memiliki waktu terbatas untuk mengakses gawai. Dengan pola pulang tiga bulan sekali dan hanya berada di rumah selama satu minggu, santri sering kali menerima tumpukan informasi sekaligus, sehingga rawan terpapar konten yang tidak akurat.
Apasih Hoaks itu?
Hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang sengaja dibuat dan disebarkan untuk mempengaruhi opini, memprovokasi emosi, atau mendapatkan keuntungan tertentu. Bentuknya dapat berupa teks, foto, video, hingga narasi yang dimodifikasi dengan tujuan menipu.
Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat lebih dari 2.000 temuan hoaks setiap tahun, dengan distribusi terbesar pada kategori politik dan sosial, terutama ketika terjadi peristiwa besar seperti demonstrasi.
Fakta Menarik nih Tentang Hoaks Saat Demonstrasi!
- Hoaks politik dan sosial menyebar 4–6 kali lebih cepat dibandingkan informasi faktual karena memicu emosi kuat seperti takut, marah, atau simpati.
- Sekitar 60% konten visual hoaks yang muncul saat demo menggunakan foto atau video lama yang dipasangkan dengan narasi baru.
- Banyak hoaks beredar sebelum demonstrasi berlangsung, sengaja dibuat untuk membentuk persepsi publik sejak awal.
- Survei menyebutkan bahwa lebih dari 60% pengguna media sosial membagikan berita hanya dari membaca judulnya, tanpa meninjau isi secara lengkap.
- Fakta ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat dipengaruhi oleh informasi yang belum terverifikasi.

dan tau kah kamu? santri seringkali menjadi target hoaks?
Mengapa Santri Rentan Menjadi Target Hoaks?
Beberapa faktor berikut membuat santri lebih mudah terpapar
- Akses gawai terbatas, sehingga konsumsi informasi dilakukan secara cepat dan padat.
- Ketergantungan pada broadcast keluarga atau teman, yang sering kali tidak jelas sumbernya.
- Sensitivitas terhadap isu sosial dan keagamaan, yang kerap menjadi tema utama hoaks.
- Minimnya waktu untuk melakukan pengecekan sumber karena padatnya aktivitas pesantren.
- Kondisi ini menjadikan santri sebagai kelompok yang perlu penguatan literasi digital
Ciri-ciri Umum Hoaks Saat Demo
Nah kita juga harus waspada dan harus bisa membedakan mana berita resmi dan berita hoaks, biasa nya hoaks itu mempunyai ciri-ciri yang menonjol seperti:
- Menggunakan bahasa provokatif dan dramatis.
- Tidak menyertakan sumber resmi atau media kredibel.
- Mengajak penerima untuk menyebarkan secara cepat.
- Menggunakan visual yang tidak relevan dengan waktu dan tempat kejadian.
- Hanya muncul di grup WhatsApp atau pesan berantai, tanpa jejak pemberitaan resmi.
- Klaim yang terlalu ekstrem atau sulit diverifikasi.
- Jika minimal tiga tanda tersebut terlihat, besar kemungkinan informasi itu merupakan hoaks.

Setelah mengetahui berbagai ciri-ciri hoaks, kita sebagai pembaca ,terlebih sebagai santri yang hidup dalam lingkungan pondok yang menjunjung kejujuran dan kehati-hatian, perlu melangkah lebih jauh. Menyadari cirinya saja tidak cukup. kita harus membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak, menimbang, dan memeriksa setiap informasi yang datang.
Tips-Tips Menghindari dan Menghadapi Hoaks
- Verifikasi sumber sebelum mempercayai informasi.
- Periksa keaslian foto dan video dengan menelusuri asalnya atau mencocokkan dengan pemberitaan resmi.
- Bandingkan informasi dengan minimal dua media kredibel.
- Hindari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
- Gunakan logika tenang, hindari terbawa emosi saat membaca informasi dramatis.
- Gunakan kanal resmi anti-hoaks, seperti rilis klarifikasi dari Kominfo.
- Diskusikan kepada guru, orang yang lebih paham, atau pihak yang kompeten apabila informasi berkaitan dengan isu keagamaan atau sosial yang sensitif.
Di tengah dinamika demonstrasi, hoaks menjadi tantangan serius yang perlu dihadapi bersama. Santri sebagai generasi muda yang memiliki peran penting dalam menjaga ketenangan dan kebenaran informasi perlu membekali diri dengan literasi digital yang kuat. Menghadapi derasnya arus berita tidak cukup hanya dengan membaca cepat, tetapi juga memerlukan ketelitian, kehati-hatian, dan sikap kritis.
Dengan membiasakan diri memeriksa kebenaran sebelum membagikan informasi, kita turut berkontribusi menjaga ketenangan lingkungan, menghindari kesalahpahaman, dan menjunjung tinggi nilai adab dalam menyampaikan kabar.
Ditulis oleh: [Salma Kanza Salsabila] bersama [Redaksi Majalah La Tansa]